Kriiinggggggggggggggggggggggggg
HP monocrom layar hitam putih ku berbunyi dan aku terbangun.”Dah jam 5 negh” gumam ku dalam hati. Aku pun langsung bergegas mandi. Hari itu jum’at 4 July 2008. Hari itu aku berencana akan kembali ke kampoeng halaman ku untuk menunaikan tugas dan kewajiban..(hehe….)
Aku pun berangkat dari jakarta pukul 8 pagi dan tiba di medan pukul 10.45. wah, koq bisa??? kemarin itu take off nya telat karena ada masalah dengan pesawat lain, demikian juga landing nya, terpaksa muter-muter dulu karena ada kesalahan teknis ketika hendak mendarat dibandara polonia medan. heheheee…..
Aku sampai dirumah pukul 11.30 malam, dan bapak masih menunggu ku disana karena sore itu aku kasih tau kalo aku mau pulang. Aku dapat melihat jelas diwajah Bapak rasa rindunya, dan dia sangat senang ketika melihat aku datang, begitu juga mama….Tapi yang paling menyita perhatianku kali ini adalah sikap bapak yang begitu luar biasa, belum pernah aku lihat sebelumnya.
Aku menatap wajah bapak begitu lekat, dan aku melihat raut wajah yang sudah mulai berubah..Wajah yang sudah terlihat tua, namun masih penuh dengan semangat. Dalam satu malam itu aku menghitung kembali jumlah biaya yang harus disiapkan tiap bulan untuk kami. Mungkin bagi sebagian orang jumlah itu ga terlalu besar, tapi bagi seorang petani, jumlah 4 jt/bulan bahkan lebih adalah jumlah yang sangat luar biasa…tapi bapak tak pernah mengeluh dan tak pernah menunda semua kebutuhan kami. Bapak tidak pernah bersungut atau mengeluh akan semua hal ini.
Dan waktu aku berkunjung ketempat namboru, dia bercerita banyak mengenai bapak selama setahun aku tak pernah pulang. Mulai dari masa susah hingga masalah bapak yang bekerja mulai dari jam 6 pagi hingga pulang jam 10 malam, dan banyak lagi. Aku pun menarik nafas dalam-dalam mendengar semua itu. Sungguh pengorbanan yang sangat besar…Aku seakan ga ingin lagi mendengarkan cerita seperti itu, aku ingin berbuat sesuatu untuk membantunya, namun aku tidak mampu. Sungguh aku belum mampu untuk itu.
Pada hari inggu pagi aku pun bersiap-siap untuk pulang lagi kejakarta. Bapak hanya berpesan satu kalimat pendek, namun sangat membuat aku terharu. “Jangan lupa Berdoa dan rajin belajar”. Aku pun menyalami mereka semua dan bergegas pulang.
Sungguh satu moment yang sangat berarti bagiku, walau pun hanya sebentar, namun itu mampu memberikan arti yang sangat besar bagiku untuk menjalani setiap aktivitasku. Sesampainya dijakarta, aku bertanya pada dirku sendiri “Apakah aku akan mampu seperti Bapakku yang aku idolakan selama ini?”. Mungkin aku masih harus banyak belajar darinya. Aku masih harus melatih kesabaran dan ketekunanku untuk menjadi seperti Beliau.
Jadi kangen plg tul
, Yupii perjuangan orang tua utk klrganya emang bener2 tak bisa diukur, so mari kita berikan yang terbaik buat mereka 
-Gbu-
By: inoque on July 22, 2008
at 8:26 am
iban..aku terharu baca tulisanmu..jadi pengen pulang..padahal baru pulang minggu lalu. Benar iban, ortu kita itu pahlawan terhebat.. molo didok hata batak..Debata na tarida..ima natua2..
Ngemeng2 about tua.. jadi ingat kotbah kmrn.. TUA ITU PASTI tapi BIJAKSANA ITU PILIHAN.. kagak nyambung yeee?? hehehe
By: rosamanalu on July 28, 2008
at 4:08 am
bah katua, hampir manetek iluku manjaha ceritamon, sada sorminan nabalga doon diau daba, songoni balga tutu usaha nadibaen natua2i laho pagodang2 hita poang, alai kadang taparsoada sialani karejonta, mauliatema diceritamon ba anggia, gabe sada gurat2 na huccus maon diparngoluon niba poang, asa lam mangantusi iba laho mangula tarlumobi pasahatton ngolu niba dohot akka natua2 niba jala sude akka sanak keluarga tu adopan ni Tuhan.
By: jumadi on August 13, 2008
at 4:12 am